Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita.
Vitamin ada yang dapat dihasilkan oleh tubuh kita tetapi lebih banyak jenis vitamin yang kita peroleh dengan cara mengonsumsi makanan ataupun minuman yang berasal dari jenis nabati ataupun hewani. Dalam hal memenuhi kebutuhan akan hidup yang sehat kita perlu mengonsumsi vitamin – vitamin yang berguna dalam menunjang hidup kita.
Salah satu dari jenis vitamin yang dapat diperoleh dari luar tubuh kita dalam menunjang hidup yang sehat yaitu vitamin C. Vitamin C dapat kita peroleh dari sekitar kita, makanan yang mengandung vitamin C pada umumnya adalah jenis buah-buahan dan sayuran. Buah yang mengandung vitamin C tidak selalu berwarna kuning, misalnya pada jambu biji yang merupakan buah dengan kandungan vitamin C paling tinggi yang dapat kita konsumsi. Bahkan, pada beberapa buah, kulitnya mengandung vitamin C lebih tinggi dari pada buahnya. Misalnya pada kulit buah apel dan jeruk walaupun tidak semua kulit buah bisa dimakan. Selain dari buah – buahan dan sayuran, di zaman yang serba modern ini vitamin C lebih mudah kita peroleh di toko – toko ataupun apotek terdekat berupa suplemen yang berbentuk obat, sirup, ataupun tablet hisap.
Vitamin C mungkin menjadi vitamin yang paling beken di masyarakat sekarang ini. Selain memang iklan tentang vitamin ini dapat dengan mudah kita temukan di media massa, vitamin C ternyata mempunyai peranan penting dalam 300 fungsi tubuh. Fakta membuktikan bahwa vitamin C sangat penting untuk mencegah terjadinya penyakit jantung, kanker dan beberapa penyakit serius lainnya. Tanpa vitamin C, tubuh tidak akan mampu untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Vitamin ini menolong dalam pengeluaran hormon anti-stress dan interferon, sejenis sistem immunitas yang penting. Penelitian menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi vitamin C akan mengurangi gejala penyakit asma, dan meningkatkan immunitas. Vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi dan juga berfungsi membantu vitamin atau mineral lain diserap oleh tubuh dengan lebih baik. Misalnya asam folat dan zat besi, kedua mineral ini membutuhkan vitamin c agar fungsinya bisa optimal.
Kekurangan vitamin C pada tubuh kita berdampak pada munculnya gangguan – gangguan pada tubuh kita sendiri, seperti pendarahan pada badan, lebam-lebam, dan gusi berdarah, gigi mudah tercabut, pendarahan ke dalam otot dan sendi yang menyebabkan kesakitan, sariawan, lemah badan, sakit-sakit dan sengal badan, nyeri otot atau gangguan syaraf, san apabila kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi dan kulit kasar.
Atas dasar pemenuhan kebutuhan sehari – hari inilah dan dikarenakan oleh kesibukan ataupun aktivitas yang tinggi, kita terkadang memutuskan untuk memilih mengkonsumsi vitamin C dalam bentuk suplemen yang praktis pemakaiannya dan mudah dibawa kemana saja kita pergi, serta terdapat beberapa merk suplemen yang harganya ekonomis. Hal inilah yang mendorong kita mengkonsumsi suplemen vitamin C.Seorang peneliti dari University of Michigan, Mark Moyad, MD,MPH, mengatakan bahwa dosis yang disarankan di dalam mengkonsumsi vitamin C adalah 75-90 mg perhari untuk dewasa. Namun hal ini sangatlah berbeda dengan iklan - iklan yang beredar di masyarakat. Terdapat iklan suplemen yang menyebutkan akan pentingnya mengonsumsi vitamin C dalam jumlah yang besar, bahkan banyak suplemen yang menawarkan 1000 mg vitamin c dalam produknya. Padahal kita ketahui bahwa 1000 mg itu merupakan batas pemakaian dan kelebihan vitamin C juga membawa dampak buruk terhadap tubuh kita.
Vitamin ini memang mudah larut dalam air sehingga bila vitamin yang dikonsumsi melebihi yang dibutuhkan, kelebihan tersebut akan dibuang dalam urine. Tetapi karena tidak disimpan dalam tubuh, maka vitamin ini harus dikonsumsi setiap hari. Dalam hal ini, terdapat masyarakat di sekitar kita yang masih belum mengetahui akan kadar vitamin C yang dibutuhkan setiap hari dan ini bisa menjadi masalah bagi mereka yang mengonsumsi suplemen vitamin ini secara berlebihan setiap harinya.
Pola fikir masyarakat yang menyatakan apabila mengkonsumsi sesuatu yang baik akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik pula, maka jika kita mengkonsumsi hal yang baik tersebut dalam porsi yang besar maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Hal inilah yang perlu kita ubah dari paradigma masyarkat dan perlu ada pembelajaran kepada mereka akan sesuatu yang ideal ataupun seimbang dalam pemenuhan hidup.
Begitupula dengan pola mengkonsumsi vitamin C, sebaiknya kita berfikir berulang – ulang kali apabila ingin mengkonsumsi suplemen vitamin c dalam dosis tinggi karena kebiasaan tersebut akan berdampak buruk pada tubuh kita sendiri. Maka dari itu perlu ditanamkan dari awal pada pola hidup kita untuk mengkonsumsi menu seimbang dan tidak membutuhkan suplemen vitamin yang berdosis tinggi. Jika kita telah mengkonsumsi menu seimbang sebaiknya tidak perlu lagi tambahan suplemen vitamin sebab makanan seimbang tersebut telah memenuhi kebutuhan gizi kita.
Kekurangan vitamin C pada tubuh kita berdampak pada munculnya gangguan – gangguan pada tubuh kita sendiri, seperti pendarahan pada badan, lebam-lebam, dan gusi berdarah, gigi mudah tercabut, pendarahan ke dalam otot dan sendi yang menyebabkan kesakitan, sariawan, lemah badan, sakit-sakit dan sengal badan, nyeri otot atau gangguan syaraf, san apabila kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi dan kulit kasar.
Atas dasar pemenuhan kebutuhan sehari – hari inilah dan dikarenakan oleh kesibukan ataupun aktivitas yang tinggi, kita terkadang memutuskan untuk memilih mengkonsumsi vitamin C dalam bentuk suplemen yang praktis pemakaiannya dan mudah dibawa kemana saja kita pergi, serta terdapat beberapa merk suplemen yang harganya ekonomis. Hal inilah yang mendorong kita mengkonsumsi suplemen vitamin C.Seorang peneliti dari University of Michigan, Mark Moyad, MD,MPH, mengatakan bahwa dosis yang disarankan di dalam mengkonsumsi vitamin C adalah 75-90 mg perhari untuk dewasa. Namun hal ini sangatlah berbeda dengan iklan - iklan yang beredar di masyarakat. Terdapat iklan suplemen yang menyebutkan akan pentingnya mengonsumsi vitamin C dalam jumlah yang besar, bahkan banyak suplemen yang menawarkan 1000 mg vitamin c dalam produknya. Padahal kita ketahui bahwa 1000 mg itu merupakan batas pemakaian dan kelebihan vitamin C juga membawa dampak buruk terhadap tubuh kita.
Vitamin ini memang mudah larut dalam air sehingga bila vitamin yang dikonsumsi melebihi yang dibutuhkan, kelebihan tersebut akan dibuang dalam urine. Tetapi karena tidak disimpan dalam tubuh, maka vitamin ini harus dikonsumsi setiap hari. Dalam hal ini, terdapat masyarakat di sekitar kita yang masih belum mengetahui akan kadar vitamin C yang dibutuhkan setiap hari dan ini bisa menjadi masalah bagi mereka yang mengonsumsi suplemen vitamin ini secara berlebihan setiap harinya.
Vitamin C atau asam askorbat ( ascorbic acid ) merupakan vitamin yang larut dalam air dan akan dibuang jika konsentrasinya di dalam tubuh sudah jenuh. Vitamin ini sangat berguna pada lebih dari 300 fungsi dalam sistem metabolisme dan sebagai sumber antioksidan yang sangat baik bagi tubuh kita. Dewasa ini, masyarakat marak membahas tentang hubungan antara vitamin C dengan antioksidan dan radikal bebas. Hal ini terjadi sebagai akibat semakin boomingnya produk – produk makanan dan minuman yang berlabel mengandung vitamin C dengan antioksidan serta dikatakan dapat melawan radikal bebas. Produk – produk tersebut dijual dengan harga yang beraneka ragam, bahkan ada yang dapat kita peroleh dengan harga yang sangat terjangkau. Padahal, komponen antioksidan terdapat di alam secara melimpah baik sayur – sayuran maupun buah – buahan. Banyak orang tidak menyadari hal ini karena belum paham betul apa yang dimaksud dengan antioksidan, jenis, kegunaan, dan bahan yang mengandungnya serta pemahaman tentang radikal bebas pun belum jelas.
Kondisi sistem kekebalan tubuh kita akan optimal jika dalam darah tersedia stok vitamin C sebanyak 1.500 mg. Namun, normalnya setiap hari tubuh kita mengambil 3 – 4 persen dari stok tersebut, yakni sekitar 45 – 60 mg perhari, guna memenuhi kebutuhan harian untuk berbagai proses alami tubuh, seperti metabolisme. Agar jumlah asupan vitamin C tetap optimal, kita harus menggantinya dengan asupan harian dalam jumlah sama, yakni 40 – 45 mg/hari pada anak – anak ( 6 bulan – 13 tahun ), 65 – 75 mg/hari pada remaja ( 14 – 18 tahun ), dan 75 – 90 mg/hari pada orang dewasa ( > 19 tahun ).
Jika gemar sayuran, terutama yang dimakan mentah seperti lalap atau salad, jumlah asupan vitamin C makin berlipat. Dengan demikian, dari buah dan sayuran kita bisa mendapatkan asupan 250 – 500 mg vitamin c. Hal ini dinilai Robert F. Catchart, M.D. lebih baik jika dibandingkan dengan mengkonsumsi suplemen vitamin C yang berdosis tinggi, karena menurut hasil penelitiannya stok vitamin C dalam darah adalah 5000 mg. Jika tubuh menggunakan 3 – 4 persennya berarti sejumlah 150 – 200 mg sebaiknya diperoleh dari makanan.
Penggunaan vitamin C oleh tubuh tidak selalu tetap dan sangat berfluktuasi. Sebagai komandan sistem perhanan tubuh, vitamin C bertanggung jawab penuh pada setiap gangguan terhadap tubuh, baik gangguan psikis ( misalnya stress,sedih,marah ), fisik ( seperti luka dan kelelahan ) , fisiologis ( contohnya asupan zat antigizi bersama makanan, kasus gizi yang salah ), maupun lingkungan ( di antaranya udara kotor, asap rokok, kebisingan ). Akibatnya, stok vitamin C gampang menipis. Demi mengantisipasi kondisi demikian, para ilmuan mempertimbangkan kembali jumlah kecukupan konsumsi vitamin C yang dianggap ideal, yakni 250 mg perhari. Sedangkan bagi para perokok diharapkan mencukupi asupan vitamin C yang lebih tinggi, yakni 400 mg perhari.
Menurut ahli biokimia penerima hadiah Nobel hingga dua kali, Linus Pauling, Ph.D. , bahwa mengkonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi sebanyak 3.200 – 12.000 mg perhari dapat menjauhkan kita dari gangguan segala macam penyakit, sehingga memperpanjang usia kita. Padahal, asupan vitamin C menurut Anjuran Kecukupan Gizi ( Recommend Dietary Allowance, RDA ) hanya 60 mg saja perhari.
Tahun 1994 Pauling meninggal dunia dalam usia 93 tahun akibat kanker. Namun, sebelum maut menjemput, ia yakin tidak rajin menelan suplemen vitamin C dosis tinggi setidaknya selama 20 tahun terakhir, mungkin ia sudah mati pada usia 60 atau 70 tahun. Menurut majalah Natural Health, yang mewawancarainya setahun sebelum ia meninggal, pada usia setua itu kulit Pauling masih tampak segar dan liat, sinar matanya cemerlang. Ia pun masih sanggup bekerja sepanjang hari. Banyak ahli yang meyakini hal ini sebagai khasiat penuaan yang dimiliki vitamin C sebagai antioksidan aktif penumpas radikal bebas.
Bersama Pauling, dokter dari Skotlandia bernama Ewan Cameron, M.D. menguji efek megadosis suplemen vitamin C terhadap pasien kanker. Dengan suntikan vitamin C 1.000 mg perhari, 16 dari 100 pasien mampu bertahan hidup lebih dari setahun. Sementara kelompok pengidap kanker yang tidak mendapatkan suplemen vitamin C hanya bertahan 3 dari 1.000 pasien. Perbedaan hasil yang dicapai kedua kelompok tersebut sangat nyata, yakni 16 banding 100 terhadap 3 banding 1.000. Sayangnya, penelitian tidak dilakukan secara acak, sehingga dianggap kurang mewakili. Baik dokter maupun pasien sama – sama mengetahui siapa saja yang diberi suplemen vitamin C dan siapa yang tidak.
Sebagian dokter Amerika Serikat mendukung keyakinan Pauling atas kemampuan pemberiaan suplemen megadosis vitamin C. Sebaliknya, ahli kesehatan yang tidak setuju dengan Pauling menganggap pemberian suplemen megadosis vitamin C sebagai kesia – siaan belaka. Kesimpulan para peneliti Inggris, seperti termuat dalam majalah Nature 9 April 1998, lebih mengejutkan lagi. Disebutkan bahwa minum suplemen vitamin C hingga 3000 mg selama 6 minggu berturut – turut justru bisa mengakibatkan gangguan pada ginjal. Hal itu disebabkan karena vitamin C yang jumlahnya berlebih diubah menjadi oksalat dalam tubuh. Karenanya, orang yang beresiko mempunyai batu ginjal sebaiknya menjauh dari suplemen - suplemen vitamin C yang memiliki dosis tinggi.
Pola hidup mengkonsumsi vitamin C dalam dosis yang tinggi tidak hanya berpengaruh pada gangguan ginjal kita, tetapi juga akan mengganggu penyerapan copper (tembaga). Konsumsi vitamin C dalam dosis tinggi juga berpengaruh besar pada penderita penyakit maag yang menyebabkan nyeri pada lambung karena sifat dari vitamin C yang asam dan mengkonsumsi vitamin c dosis tinggi dalam bentuk oral (diminum) dapat menyebabkan kontraksi usus lebih terangsang sehingga menimbulkan diare.
Selain itu, vitamin C sebagai antioksidan akan mendonorkan atom hidrogen radikal sehingga dapat menetralkan radikal tersebut. Namun dari reaksi ini dihasilkan pula radikal antioksidan. Apabila vitamin C dikonsumsi dengan dosis yang terlalu besar di luar kebutuhan, maka akan dihasilkan banyak radikal antioksidan sehingga vitamin C akan berubah menjadi suatu pro-oksidan yang nantinya bersifat negatif pada manusia.
Kondisi sistem kekebalan tubuh kita akan optimal jika dalam darah tersedia stok vitamin C sebanyak 1.500 mg. Namun, normalnya setiap hari tubuh kita mengambil 3 – 4 persen dari stok tersebut, yakni sekitar 45 – 60 mg perhari, guna memenuhi kebutuhan harian untuk berbagai proses alami tubuh, seperti metabolisme. Agar jumlah asupan vitamin C tetap optimal, kita harus menggantinya dengan asupan harian dalam jumlah sama, yakni 40 – 45 mg/hari pada anak – anak ( 6 bulan – 13 tahun ), 65 – 75 mg/hari pada remaja ( 14 – 18 tahun ), dan 75 – 90 mg/hari pada orang dewasa ( > 19 tahun ).
Jika gemar sayuran, terutama yang dimakan mentah seperti lalap atau salad, jumlah asupan vitamin C makin berlipat. Dengan demikian, dari buah dan sayuran kita bisa mendapatkan asupan 250 – 500 mg vitamin c. Hal ini dinilai Robert F. Catchart, M.D. lebih baik jika dibandingkan dengan mengkonsumsi suplemen vitamin C yang berdosis tinggi, karena menurut hasil penelitiannya stok vitamin C dalam darah adalah 5000 mg. Jika tubuh menggunakan 3 – 4 persennya berarti sejumlah 150 – 200 mg sebaiknya diperoleh dari makanan.
Penggunaan vitamin C oleh tubuh tidak selalu tetap dan sangat berfluktuasi. Sebagai komandan sistem perhanan tubuh, vitamin C bertanggung jawab penuh pada setiap gangguan terhadap tubuh, baik gangguan psikis ( misalnya stress,sedih,marah ), fisik ( seperti luka dan kelelahan ) , fisiologis ( contohnya asupan zat antigizi bersama makanan, kasus gizi yang salah ), maupun lingkungan ( di antaranya udara kotor, asap rokok, kebisingan ). Akibatnya, stok vitamin C gampang menipis. Demi mengantisipasi kondisi demikian, para ilmuan mempertimbangkan kembali jumlah kecukupan konsumsi vitamin C yang dianggap ideal, yakni 250 mg perhari. Sedangkan bagi para perokok diharapkan mencukupi asupan vitamin C yang lebih tinggi, yakni 400 mg perhari.
Menurut ahli biokimia penerima hadiah Nobel hingga dua kali, Linus Pauling, Ph.D. , bahwa mengkonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi sebanyak 3.200 – 12.000 mg perhari dapat menjauhkan kita dari gangguan segala macam penyakit, sehingga memperpanjang usia kita. Padahal, asupan vitamin C menurut Anjuran Kecukupan Gizi ( Recommend Dietary Allowance, RDA ) hanya 60 mg saja perhari.
Tahun 1994 Pauling meninggal dunia dalam usia 93 tahun akibat kanker. Namun, sebelum maut menjemput, ia yakin tidak rajin menelan suplemen vitamin C dosis tinggi setidaknya selama 20 tahun terakhir, mungkin ia sudah mati pada usia 60 atau 70 tahun. Menurut majalah Natural Health, yang mewawancarainya setahun sebelum ia meninggal, pada usia setua itu kulit Pauling masih tampak segar dan liat, sinar matanya cemerlang. Ia pun masih sanggup bekerja sepanjang hari. Banyak ahli yang meyakini hal ini sebagai khasiat penuaan yang dimiliki vitamin C sebagai antioksidan aktif penumpas radikal bebas.
Bersama Pauling, dokter dari Skotlandia bernama Ewan Cameron, M.D. menguji efek megadosis suplemen vitamin C terhadap pasien kanker. Dengan suntikan vitamin C 1.000 mg perhari, 16 dari 100 pasien mampu bertahan hidup lebih dari setahun. Sementara kelompok pengidap kanker yang tidak mendapatkan suplemen vitamin C hanya bertahan 3 dari 1.000 pasien. Perbedaan hasil yang dicapai kedua kelompok tersebut sangat nyata, yakni 16 banding 100 terhadap 3 banding 1.000. Sayangnya, penelitian tidak dilakukan secara acak, sehingga dianggap kurang mewakili. Baik dokter maupun pasien sama – sama mengetahui siapa saja yang diberi suplemen vitamin C dan siapa yang tidak.
Sebagian dokter Amerika Serikat mendukung keyakinan Pauling atas kemampuan pemberiaan suplemen megadosis vitamin C. Sebaliknya, ahli kesehatan yang tidak setuju dengan Pauling menganggap pemberian suplemen megadosis vitamin C sebagai kesia – siaan belaka. Kesimpulan para peneliti Inggris, seperti termuat dalam majalah Nature 9 April 1998, lebih mengejutkan lagi. Disebutkan bahwa minum suplemen vitamin C hingga 3000 mg selama 6 minggu berturut – turut justru bisa mengakibatkan gangguan pada ginjal. Hal itu disebabkan karena vitamin C yang jumlahnya berlebih diubah menjadi oksalat dalam tubuh. Karenanya, orang yang beresiko mempunyai batu ginjal sebaiknya menjauh dari suplemen - suplemen vitamin C yang memiliki dosis tinggi.
Pola hidup mengkonsumsi vitamin C dalam dosis yang tinggi tidak hanya berpengaruh pada gangguan ginjal kita, tetapi juga akan mengganggu penyerapan copper (tembaga). Konsumsi vitamin C dalam dosis tinggi juga berpengaruh besar pada penderita penyakit maag yang menyebabkan nyeri pada lambung karena sifat dari vitamin C yang asam dan mengkonsumsi vitamin c dosis tinggi dalam bentuk oral (diminum) dapat menyebabkan kontraksi usus lebih terangsang sehingga menimbulkan diare.
Selain itu, vitamin C sebagai antioksidan akan mendonorkan atom hidrogen radikal sehingga dapat menetralkan radikal tersebut. Namun dari reaksi ini dihasilkan pula radikal antioksidan. Apabila vitamin C dikonsumsi dengan dosis yang terlalu besar di luar kebutuhan, maka akan dihasilkan banyak radikal antioksidan sehingga vitamin C akan berubah menjadi suatu pro-oksidan yang nantinya bersifat negatif pada manusia.
Pola fikir masyarakat yang menyatakan apabila mengkonsumsi sesuatu yang baik akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik pula, maka jika kita mengkonsumsi hal yang baik tersebut dalam porsi yang besar maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Hal inilah yang perlu kita ubah dari paradigma masyarkat dan perlu ada pembelajaran kepada mereka akan sesuatu yang ideal ataupun seimbang dalam pemenuhan hidup.
Begitupula dengan pola mengkonsumsi vitamin C, sebaiknya kita berfikir berulang – ulang kali apabila ingin mengkonsumsi suplemen vitamin c dalam dosis tinggi karena kebiasaan tersebut akan berdampak buruk pada tubuh kita sendiri. Maka dari itu perlu ditanamkan dari awal pada pola hidup kita untuk mengkonsumsi menu seimbang dan tidak membutuhkan suplemen vitamin yang berdosis tinggi. Jika kita telah mengkonsumsi menu seimbang sebaiknya tidak perlu lagi tambahan suplemen vitamin sebab makanan seimbang tersebut telah memenuhi kebutuhan gizi kita.

astaga, baru ni isi nya anu mu???
BalasHapusbaru juga sdikit sa brangkali...
iya...moryyyyyyyyy!!!
BalasHapustapi biarlah sedikit!!!
kan baru belajar...
ehehehheh